Alasan di Balik Banyaknya Petani Berhenti Tanam Padi

Padi di sawah menguning siap panen
Foto padi di sawah sudah menguning

MariKlik.Com. Banyak alasan atau penyebab para petani berhenti atau enggan menanam padi lagi. Petani padi tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik petani padi air (sawah) maupun padi darat (gogo). Bagi kami masyarakat yang berada di pesisir menanam padi sawah, sementara yang di perbukitan menanam padi gogo dengan sistem tugal. Para petani padi di setiap daerah memiliki alasan atau kendala masing-masing yang menyebabkan sebagian dari mereka berhenti menanam padi.

Alasan Umum

Secara umum karena biaya produksi tinggi, namun hasil tidak sepadan dengan tenaga, teknologi, dan biaya produksi, perubahan iklim (kekeringan/banjir), serta masalah infrastruktur dan hama membuat mereka merugi, seringkali beralih ke tanaman lain yang lebih menjanjikan keuntungan seperti tanaman palawija dan perkebunan.

Alasan Ekonomi dan Sosial

  1. Biaya produksi tinggi namun hasil tidak sesuai. Menanam padi, mulai dari mengolah lahan sampai panen semuanya mengeluarkan tenaga dan biaya. Biaya operasional naik, sementara hasil tonase tidak sesuai harapan.
  2. Kekompakan para petani mulai berkurang. Karena cuaca yang berubah terkadang ada yang memulai lebih awal, sementara yang lain masih menunggu. Sebagai contoh, ketika bulan oktober biasanya musim tanam karena mulai turun hujan, karena hujan belum turun maka yang menunggu hujan belum memulai tanam, sementara ada yang tetap menanam meskipun belum ada hujan, mereka sanggup menggunakan mesin pompa air untuk memasukan air ke area persawahan. Ini terjadi di daerah kami.
  3. Kekurangan petani muda. Sudah jarang atau hanya sedikit anak muda yang berminat melanjutkan profesi (orang tuanya misalnya) sebagai petani karena stigma pekerjaan berat, melelahkan, dan tidak keren.
  4. Kesenjangan teknologi dan juga modal. Meskipun ada teknologi pertanian modern milik sendiri ataupun bantuan pemerintah, namun adopsinya yang lambat karena keterbatasan pengetahuan dan biaya investasi awal yang besar.
    Meskipun tersedia mesin dan peralatan pertanian namun jika petani tidak memiliki modal untuk menggerakan mesin dan peralatan tersebut juga tidak akan jalan. Misalnya modal untuk mengolah lahan seperti bahan bakar minyak, rolling alat ke lahan, dan upah jasa operator alat.
    Ini baru biaya awal, sementara menanam padi dari awal mengolah lahan sampai mengangkut gabah, menjemur gabah, menggiling gabah sampai menjadi beras perlu biaya sehingga tidak jarang yang menggunakan modal pinjaman.

Masalah Alam dan Iklim

  1. Perubahan iklim seperti musim kemarau panjang atau hujan berlebih menyebabkan gagal panen atau meningkatnya risiko hama dan penyakit.
  2. Di daerah tadah hujan, sulitnya akses irigasi yang memadai terutama di musim kemarau mengakibatkan kekurangan air  memaksa petani beralih tanaman lain.
  3. Di daerah atau area persawahan pasang surut kelebihan air akan menjadi masalah. Misalnya ketika sedang menabur benih (sistem tabela), disaat bersamaan curah hujan dan air pasang tinggi memaksa petani harus mengeluarkan air menggunakan mesin pompa air agar padi bisa tumbuh sempurna dan tidak dimakan keong jika masih ada keong tersisa.

Masalah Teknis & Infrastruktur

  1. Degradasi lahan. Tanah semakin rusak akibat penggunaan bahan kimia secara intensif dan penanaman terus-menerus tanpa memberikan tanah waktu untuk istirahat. Jika dulu mungkin menanam padi bisa panen 4 kali dalam satu tahun, mungkin saat ini hanya bisa maksimal dua kali panen itupun hasilnya tidak maksimal. Bisa saja empat kali menanam tapi itu karena gagal lalu mencoba menanam lagi sampai berkali-kali.
  2. Hama dan Penyakit. Intensifikasi pertanian membuat serangan hama dan penyakit lebih sering terjadi. Selain itu, ketika petani ini tidak kompak maka akan muncul masalah baru terkait pengendalian hama dan penyakit yang terus bersambung dan hanya pindah-pindah saja.
    Sebagai contoh di tempat kami karena petani tidak kompak, disaat padi mulai mengisi datanglah hama burung manyar dan sejenisnya. Disini petani akan kewalahan menjaga atau mengahalau burung bahkan ada yang menyewa orang dan sudah memasang jaring pun tidak sanggup.
    Ketika musim tanam tidak kompak dan serempak, maka burung ini akan menyerang sawah berikutnya. Akhirnya hama ini cuma berpindah dari sawah satu ke sawah lainnya, tidak pergi jauh.
  3. Infrastruktur kurang. Tidak semua insfrastruktur pertanian maju seperti di pulau Jawa. Jalan rusak, irigasi buruk, dan fasilitas pasca panen yang buruk menyulitkan distribusi dan penjualan hasil panen.
Alternatif

Alternatif petani yaitu meninggalkan pertanian untuk sementara atau selamannya. Beberapa petani terpaksa berhenti sementara dan ada yang beralih profesi ke perkebunan seperti fokus ke tanaman sawit. Hal ini karena sektor pertanian padi memiliki banyak kendala dan tantangan yang menguras tenaga dan biaya dari fase mengolah lahan sampai panen. Terutama untuk daerah di luar Jawa yang fasilitas lahan pertaniannya belum maju.

Itulah beberapa alasan atau penyebab para petani berhenti atau enggan menanam padi lagi. Di daerah lain bisa jadi alasanya lebih banyak daripada di daerah kami.
Saya menanam padi dari tahun 2021 sampai 2023 memutuskan untuk berhenti menanam padi karena saya merasakan menanam padi itu meskipun hanya 3 bulan sudah panen tapi sangat melelahkan dalam prosesnya.
Mengapa sangat melelahkan? Satu yang pasti bahwa menanam padi akan mengulang terus proses yang sama mulai dari olah tanah sampai panen dimana di dalamnya terdaspat tantangan yang berbeda beda setiap musimnya. Alasan lengkapnya akan saya uraikan di lain waktu.
Show 1 Comment

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *