MariKlik.Com. Jika sebelumnya saya sudah menulis tentang alasan di balik banyaknya petani berhenti tanam padi, kali ini saya menulis tetang alasan mengapa menanam padi itu melelahkan berdasarkan yang saya alami di daerah saya.
Pada dasarnya setiap komoditas baik pertanian dan perkebunan memiliki potensi cuannya masing-masing di setiap daerah, namun semuanya juga memiliki kendalanya tersendiri. Menanam padi di pulau Jawa mungkin lebih mudah dibandingkan menanam padi di Kalimantan.
Sebagai gambaran luas area yang kami kelola adalah 1 hektar dengan tenaga kerja adalah keluarga berjumlah 1 sampai dengan 4 orang. Bekerja secara sendirian terkadang secara bersama sama tergantung fase dan kesibukan dengan pekerjaan lain. Berikut ini beberapa alasan menurut saya yang menyebabkan mengapa menanam padi sangat melelahkan.
Fase Pengolahan Tanah
Mengolah tanah menggunakan traktor kelompok, kita modal bahan bakar dan tenaga serta uang kas kelompok untuk perbaikan traktor kalau ada kerusakan. Jika menggunakan jasa mentraktorkan lahan sampai jadi sekitar Rp. 1.200.000 s/d Rp. 1.600.000.
Setelah selesai mentraktor, menggenangi areal sawah dengan air penuh kemudian menyemprotnya dengan herbisida pra dan purna tumbuh beserta obat keong (moluskisida) seperti De Bestan 60 wp 3 s/d 4 bungkus per hektar dan mendiamkannya selama kurang lebih 3 hari. Perlu melakukan penyemprotan ulang jika terlihat masih ada keong yang belum mati hingga benar-benar tuntas. Dengan metode tanam tabur benih langsung (tabel) keong ini hama padi ketika baru ditabur.
Ketika keong sudah benar bersih mendekati 99,9% maka tahap selanjutnya mengeringkanareal sawah. Permukaan yang belum rata baik yang tinggi maupun yang rendah harus diratakan terutama yang dalam dan berisi air harus terisi tanah, karena biasanya yang dalam ini jika dibiarkan akan menyebabkan padi tidak tumbuh dan menyebabkan taburan menjadi bolong-bolong (tidak merata).
Area sekitar pematang juga harus dibersihkan agar hama tikus tidak memakan taburan yang baru tumbuh. Biasanya hama saat taburan baru tumbuh adalah berbagai macam burung dan tikus (biasanya juga dipasangi obat tikus).
Tahap Persiapan Bibit
Dengan menggunakan sistem tabela, kita harus menyiapkan bibit sekitar 2 karung atau 80 kg atau lebih. Semakin rapat taburan semakin banyak bibit yang diperlukan. Meskipun sistem tabela namun kami buat jarak seperti baluran seperti sistem tapin untuk jalan lewat menyulam yang tidak tumbuh, memupuk dan menyemprot, memasang kawat setrum, atau memasang dan melepas jaring penghalau burung.
Merendam benih padi dalam drum atau bak berisi air, saat memasukannya ke dalam wadah berisi air, maka gabah yang mengambang dibuang saja. Waktu perendaman kurang lebih satu malam. Setelah itu biasanya benih dibungkus terpal kurang lebih 3 hari.
Tahap Penanaman atau Penaburan
Setelah panjang tunas benih padi tadi sudah cukup maka tahap selanjutnya melakukan penaburan. Biasanya petani mengeringkan lahan sehari sebelum proses penaburan. Tantangan mengeringkan lahan adalah ketika musim hujan dan air pasang tinggi sehingga harus menggunakan mesin sedot air, selain itu juga bibit sudah menunggu untuk ditabur, jika lambat biasanya benih akan menggumpal karena akar semakin panjang dan saling mengikat.
Di daerah yang struktur tanahnya bagus penaburan bisa dalam kondisi areal sawah berisi air, tapi di tempat kami jika melakukannya seperti itu akan banyak yang tidak tumbuh karena mata tunasnya tertutup lumpur. Oleh sebab itu, jika selesai menabur dan turun hujan maka banyak tanam ulang untuk mengisi yang tidak tumbuh. Kerja dua kali, tenaga dan biaya sudah pasti.
Mengapa tidak menggunakan metode tanam pindah (tapin). Faktor hitung-hitungan biaya dan hasil penen yang terkadang tidak sesuai menjadikan sistem tabela menjadi pilihan karena lebih murah dan cepat.
Tahap Paska Penaburan
Setelah menaburkan bibit, kita perlu menunggu areal sawah terutama pada siang hari kurang lebih selama seminggu. Tujuannya apa? tujuannya agar burung tidak memakan taburan. Kita harus berangkat pagi-pagi benar ketika masih gelap agar tidak keduluan burung (sekitar habis subuh harus sudah di sawah) dan pulang kalau sudah gelap. Kita tidak bisa pulang siang karena khawatir burung turun sewaktu-waktu pada siang hari. Menjaga burung seluas 1 hektar tidak cukup oleh satu orang, minimal dua orang dengan tali yang orang bisa menariknya dari sisi pinggir sawah bermodal bambu, plastik dan kaleng bekas.
Kendala berikutnya adalah burung nokturnal dan tikus yang suka makan taburan ketika malam hari. Ini biasanya yang sering kecolongan di seluruh pinggiran sawah karena dekat dengan pematang atau galengan. Cara mengatasinya bisa dengan menyetrum atau memasang racun tikus. Menyetrum tikus itu tidak mudah, perlu modal mesin dan perlatan dan tentunya merakit rangkaiannya tidak sembarangan agar bisa berjalan tanpa konslet dan demi keamanan. dan yang pasti kita juga berjaga ketika menyetrum hama tikus. Tidur pun tidak nyenyak seperti tidur-tidur ayam. Siang ahrus kerja lagi.
Tahap Pertumbuhan
Bayangkan dari mulai mengolah lahan kita harus menetralkan lahan dari keong dan gulma (semuanya perlu biaya), setelah menabur benih (sistem tabela) harus menunggu burung dan mengendalikan hama tikus agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan merata.
Pada masa pertumbuhan kita harus melakukan pemupukan dengan berbagai jenis pupuk, pengendalian hama dan penyakit dengan penyemprotan beberapa pestisida, terkadang pengendalian gulma. Hama yang biasa menyerang tanaman padi pada masa pertumbuhan seperti sundep.
Jika padi terserang sundep akan menyebabkan kerusakan pada bagian batang dan daun padi, sehingga berdampak pada penurunan hasil panen. Gejala serangan hama sundep pada padi meliputi batang padi berlubang dan rusak, daun padi menguning dan layu, tanaman padi menjadi sedikit. Merawat tanaman padi seperti merawat bayi, perlu ketekunan dan kesabaran.
Pade fase ini juga terkadang tikus menyerang tanaman padi. Tikus biasanya melakukan serangan mulai dari tengah sehingga terkadang petani tidak menyadari kalau tanamannya terserang hama tikus. Jika hama tikus sudah menyerang cara pengendalian yang efektif adalah menggunakan pagar seng keliling atau polibag kemudian melakukan penyetruman, tanpa memasang penghalang akan kurang efektif, banyak tikus yang pintar menghindar dengan meloncat masuk.
Tahap Pembuahan
Pada saat padi bunting biasanya rawan hama tikus. Tentunya pengendaliannya berlanjut sejak dalam tahap pertumbuhan. Saat sudah keluar malai biasanya walang sangit juga sudah ada, terutama jika petani malas melakukan penyemprotan. Perlu penyemprotan agar walang sangit tidak merusak bulir yang masih muda. Burung emprit juga biasanya mulai banyak karena menyukai bulir yang masih muda.
Saat padi mulai menguning biasanya burung manyar, peking, tekukur juga menyukainya. Burung manyar bergerombol bisa ratusan bahkan ribuan. Ketika tidak menjaganya maka burung akan habis memakannya. Karena areal yang luas meskipun cuma satu hektar, sebagian ada yang menggunakan jaring untuk menghalau meskipun belum bisa menutup rapat keseluruhan areal sawahnya. Jika serangan burung sudah parah, bahkan petani ada yang gagal panen hanya karena tidak sanggup menjaga burungnya.
Tahap Penen dan Penjemuran
Ketika petani padi sudah lolos ujian pada tahapan setiap proses, yang terakhir adalah ketika panen. Saat akan dipanen terkadang banyak tanaman padi yang roboh sehingga padi basah dan bercampur lumpur. Petani harus mengikat manual satu persatu padi yang roboh agar bisa panen dengan menggunakan mesin combine. Jika tercampur lumpur ini biasanya gabahnya menjadi jelek tidak kuning mengkilat (warnanya buluk).
Pada tahap penjemuran ini ibarat hasil maksimal sudah di depan mata bisa saja menjadi sebuah kegagalan. Bayangkan ketika gabah kita bersih saat dipanen namun saat akan menjemurnya terkendala cuaca akhirnya gabah berada lama di dalam karung ataupun terpal sehingga menyebabkan gabah menjadi bau dan berasnya menjadi kuning berbau apek. Bahkan ada yang sampai menjadi calon bibit siap tabur lagi.
Beberapa petani menyiasati dengan hamparan terpal yang dengan atap segitiga dari terpal juga untuk mengurai tumpukan gabah dan membuat sirkulasi udara berganti sehingga gabah tidak panas seperti di dalam karung. Kenapa tidak memakai oven? Tidak semua daerah ada oven untuk gabah.
Kalau kita perhatikan, menanam padi itu setiap tahap memiliki ujian sendiri yang harus kita lewati dari awal hingga akhir (dari menanam sampai menjadi beras). Dan tahap ini beserta kendalanya harus kita ulangi dan jalani lagi ketika kita menanam padi kembali. Pada musim tanam berikutnya kendalanya lebih mudah atau bahkan lebih parah sehingga ada yang gagal panen.
Catatan penting. Mungkin di daerah tertentu, menanam padi dengan perawatan minim tetap dapat hasil yang maksimal, namun tidak untuk daerah lainnya. Menanam padi harus benar-benar bisa merawatnya secara totalitas. Contoh saja, ada yang memakai jaring dan manusia masih menjaganya, di tempat lain bahkan membiarkannya saja tetap aman.


